Monday, August 04, 2014

RIndu dong

Jam menunjukan pukul 22.45 saaat saya sampai di rumah. Perjalanan malam dari pondokan KKN ke rumah malam ini agak berbeda dari malam sebelumnya, dingin dan bikin deg-degan. Tapi bukan deg-degan karena ada yang nyatain cinta kok. #duh

Saya memang nggak biasa pulang malam, biasanya hanya kalau kepepet saja dan acara-acara penting. Tapi itu bukan berarti saya takut. Selama ini kalau saya terpaksa pulang malam, selalu biasa saja, ndak takut atau parno.

Tapi malam ini, setelah rapat dengan pemuda di pondokan KKN, saya memang agak ragu mau pulang atau tidak. Sebenarnya bisa saja malam ini nginep di pondokan, tapi sayangnya esok hari ada kerjaan dirumah yang ndak bisa ditinggal, mau nggak mau saya harus pulang.

Jalan Parangtritis menjadi jalan yang saya pilih. Alasannya jarak dari lokasi KKN sampai kerumah memang lebih dekat lewat jalan ini. Jalan cukup ramai, sepeda motor dan mobil masih banyak menuju ke arah kota jogja. Mentok dijalan parangtritis, deg-degan pun dimulai. Pas dapat lampu merah, dari arah barat ada sekelompok orang dengan sorban yang ditaruh dipundak yang naik motor sambil digeber-geber. Sekelompok ini bukan dua atau tiga orang saja. Tapi banyak banget, mungkin 20 motor ada, lebih kayaknya. Mereka menuju ke arah utara. Dan itu artinya, kami bakal satu arah. Itu satu-satunya arah untuk pulang.
Pas lampu sudah hijau, ternyata polisi yang jaga sudah stand dan mengarahkan kami untuk tidak ikut ke "pawai" tersebut. Manut, iya. Tapi saya lalu muter, lha wong itu satu-satunya jalan pulang. Maaf pak polisi.
Dan salah ternyata ndak manut sama pak polisi. Baru jalan beberapa meter, ternyata rombongan berhenti ditengah jalan. Dari pndangan mata, mereka tampak lagi ribut. Haduh.. beberapa motor didepan saya malah ikut berhenti, ikut nonton. Mau ndak mau saya juga cuma bisa ikut nonton gerombolan orang yang mulai berteriak-teriak. Hingga ada suara letusan.

Saya sempat mikir, oh mereka mungkin lagi nyalain mercon. Eh..
tapi bukan, kemudian ada tiga kali susulan letusan. Dan itu berasal dari salah satu dari kelompok yang membawa pistol, dan menembakannya ke atas. Ya ampuun..

Jadi deg-deg-an gitu,malem-malem dingin nonton adegan live tembak-tembakan. Karena takut, saya pun memilih ngacir, muter balik.

Beneran muter balik, yaitu muter terus keliling jalan sekitar situ terus balik lagi lewat situ. Ya karena emang cuma bisa lewat sana. Alhamdulillah rombongan -rombongan berbendera dan bersorban sudha nggak ada, diganti beberapa polisi.

Saya ndak tahu juga sih itu dari "kelompok" apa. Yang pasti memang agak mengerikan. Selama ini kalau pulang malam saya biasa merasakan jogja yang aman-aman, sat ini saya jadi agak ragu :(
semoga jogja kembali seperti dulu lagi. Rindu jogja yang nyaman dan aman :(


Sunday, August 03, 2014

Dihargai dong



Pernah ndak merasa nggak terima, nggak suka atau merasa dirugikan dengan suatu keputusan yang dibuat oleh sekelompok orang? Padahal diri ini bagian dari kelompok itu juga. Kebetulan saat ngambil keputusan kita ndak dateng, atau bahkan saat pengambilan keputusan mufakat kita ada tapi ndak bisa bersuara karena ndak ada dukungan. 
Mau protes, rasanya sia-sia karena keputusan udah di ketok palu. Nyari temen dan dukungan buat ngerubah keputusan, ndak ada yang bisa diajak kerjasama, ada yang takut, ada yang ndak peduli. Akhirnya cuma bisa grundelan, ngrasani, dan nggonduk ketika menjalankan hasil keputusan. Alias mengeluh terus saat menjalankan tugas. 

Padahal dengan mengeluh kerjaan dan tugas jadi lebih berat lho. Iya~ saya sering ngalami kok. Mengeluh dan nyalahin orang jadi penghambat kerja dan bisa bikin hidup nggak positive. Energi yang harusnya digunakan untuk kerja habis terpakai untuk memikirkan hal-hal negatif. 

Saat mengeluh itulah sering otak jadi kreatif untuk mencari-cari alasan. Alasan buat protes dan nggresulo. Iya sih memang dalam permusyawarahan harusnya semaksimal mungkin mengayomi anggotanya dengan keputusan-keputusan yang diambil. Idealnya begitu. Tapi kenyataan memang sering jauh dari yang ideal.
Dan kalau itu terjadi, ada dua sikap yang bisa bikin enak menurut saya, yaitu :

2. Lain kali lebih fokal kalau musyawarah
Faktanya di Indonesia yang suaranya paling keras, walau kadang nggak berbobot, lebih didengar dan dilihat. Kadang mereka yang berduit juga yang lebih didengar dan dilihat. :( 
Tapi ya udah, jangan hanya nyalahin keadaan, tapi rubah keadaan.  Caranya?
Ya berarti lain kali lebih fokal lagi kalau ada musyawarah. Jangan malu-malu untuk mengungkapkan pendpat. Jangan diam saja pas di forum, tapi ngomong nggak enak dibelakang. 

1. Legowo 
Menerima hasil keputusan dengan lapang dada. Memang harusnya seperti itu sih. Setiap anggota di musyawarah harusnya bisa menghargai keputusan yang sudah diambil. Toh keputusan sudah diambil, orang-orag udah  pada menjalankan hasil keputusan. Kalau mau diubah dan saran cari waktu yang pas saja. Selama penantian waktu pas itu memang harus legowo saja. Masih ingat pelajaran PPKN tentang saling menghargai pas kelas 4 SD kan?  Saatnya dipraktekan itu ilmunya :D

ya sudah gitu aja, boleh lho kalau ada yang mau nambahi, nyaci, dan lain sebagainya. Post ini belum diketok palu, masih bisa berubah sewaktu-waktu. Lha wong ini sebenarnya post juga hasil nggresulo, dari pada bikin pusing, dibikin jadi postingan blog aja deh :))


Friday, August 01, 2014

Selamat Lebaran Dong


Mohon maaf lahir batin yaa sodara-sodara. Semoga dihari raya idul fitri kali ini bisa menjadi penutup dan perayaan setelah ramadhan yang penuh berkah. Semoga bisa ketemu lagi sama Ramadhan tahun depan. Aamiin.

 Ngomong-ngomong soal idul fitri, seperti tahun sebelumnya saya tidak merasakan yang namanya mudik. Kalau dulu saya memang ikut mudik orang tua ke Solo, jadi bisa merasakan gimana suasana mudik. Packing, pantat pegel karena harus naik motor, macet, dan segala bau-bau mudik. :)))

Buat sodara-sodara yang masih mudik atau baru perjalanan pulang, semoga selamat sampai tujuan. Sementara sambil nunggu libur KKN PPL selesai saya tak nyemil astor dulu. :))

Gambar : Astor