Thursday, January 15, 2015

Jangan Game Terus Dong

Beberapa hari ini saya lagi ketagihan main game online. Game nya adalah Travian, tahu game ini kan? Game ini adalah game strategi perang. Pemain ditugaskan membangun desa dan kerajaan. Asyiknya game ini setelah dibangung bisa perang-perangan antar pemain gitu.

Ini bukan kali pertama saya memainkan game Travian. Saat SMK dulu saya juga pernah memainkan game ini, tapi masih belum begitu paham permainannya.

Monday, January 05, 2015

#ENVOY6 Film 9 Summer 10 Autumns Dong


Ini merupakan film kedua yang saya tonton di bioskop. Sebelumnya saya “memaksakan diri” nonton ke bioskop untuk film MESTAKUNG, tentu karena ada Prof. Yohannes Surya, salah satu tokoh favorit saya. Untuk film kedua ini saya nonton di Blitz Megaplex Mall Pacifix Place Jakarta. Salah satu mall kece yang prestigious di Jakarta.

Film yang saya tonton adalah 9 Summer 10 Autumns, sebuah film yang diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Iwan Setyawan. Nonton film ini sebenarnya adalah salah satu rangkaian acara Training MRUF Envoy 6 yang disupport langsung oleh Blitz Megaplex dan Mas Iwan Setyawan sendiri. Sayangnya memang mas Iwan nya tidak bisa ikut datang diacara nonton bareng ini. Tapi ndak papa, sudah banyak terimakasih dikasih kesempatan nonton film apik ditempat yang asik gini.
Teman-teman MRUF6 setelah nonton bareng \\(^_^)//

Tentang jalan cerita film ini sendiri dibuat secara apik dan cukup membawa emosi saya ikut terombang-ambing. Film ini bercerita tentang Iwan seorang anak yang berjuang meraih mimpi dengan segala masalah-masalah yang ada dibelakangnya. Mimpinya sederhana. Ingin memiliki kamar. Namun itu jadi sebuah hal yang istimewa baginya dengan rumah tipe 3L ( Lu Lagi Lu Lagi ) yang ia huni bersama ayah ibu dan keempat kakak perempuannya.

Iwan yang seorang anak supir itu berjuang meraih mimpinya, dnegan belajar dan bekerja sampai ke New York. Masa lalu yang begitu sulit dan getir tak membatasi dirinya untuk terus maju. Bagi beberapa orang memang masa lalu bisa membayangi dan mengganggu langkah untuk maju kedepan. Tapi disinilah Mas Iwan berusaha muncul menginspirasi kita. Bahwa masalalu tidak akan mempengaruhi apa yang akan terjadi dimasa depan kita.
 “Masa lalu itu bagaimana getirnya akan selalu ada untuk dimengerti,”
 “Aku tak bias memilih masa kecilku. Tapi masa depan itu, kita sendiri yang dapat melukiskannya.”

 Saya sendiri tergoda untuk mengoleksi bukunya. Tapi nunggu ada dana dulu deh, sudah masih waiting list. Kalau lihat dari filmnya saya yakin bukunya pasti juga lebih bagus dan menginspiriasi. Bagi yang belum nonton saya rekomendasikan film ini deh,

sebagai penyemangat dalam perjuangan dan meraih mimpi.

Cita-citaku ingin jadi wartawan dong

“ Pak bu, aku pengen jadi wartawan,”
Entah wangsit mana yang saya dapat saat itu, sehingga sepulang dari warnet bicara menggebu-gebu seperti itu pada kedua orang tua saya. Seperti anak kecil, saya mengungkapkan keinginan itu berkali-kali pada bapak ibu. Saat itu saya kelas 3 SMP atau kelas 1 SMK, agak lupa. Untung mereka sudah hapal dengan anaknya yang dapat julukan Miss Ribut dari kakeknya ini hehe..sehingga tidak bosan atau membungkam saya.

Dalam bayangan saya jadi wartawan itu menyenangkan. Bisa jalan-jalan kemanapun, meliput, wawancara, tahu informasi ini itu. Keren lah. Apalagi saya punya beberapa teman yang juga berprofesi wartawan saat itu. Sangat senang ketika membaca tulisan pengalaman liputan mereka dan bagaimana mereka menuliskan pemikiran dengan ringkas dan cerdas.
Saya juga punya beberapa kenalan wartawan di media cetak. Dulu saya sering cerita bagaimana saya ingin jadi wartawan. Mereka banyak saran dari mulai bacaan, saran untuk coba menulis, dan sharing pengalaman. Salah satunya ada yang bilang :
“ Jangan berharap jadi wartawan bisa kaya “ 
heheehehe..
Pacar yang baik adalah seorang wartawan :))))) 
Ah tapi kalau passionnya memang disana, masalah kaya atau enggak bisa diatur lah. :p
Dan setelah sekian lama. Sekitar 8 – 7 tahun kemudian, saya sudah beberapa kali jadi peliput acara dan kegiatan. Iya jadi wartawan.

Belum resmi dengan pers card dan tergabung dengan Ikatan Wartawan atau ikut ngantor dengan status resmi wartawan sih. Tapi beberapa tulisan saya beberapa kali muncul dibeberapa media. Sering nulis juga untuk web Fakultas, dan beberapa tulisan sempat masuk di beberapa media cetak ( ya walau di rewrite)

Menyenangkan memang, ketika apa yang diinginkan bisa tercapai. Etapi bukan berarti jadi berpuas diri. Saya belum ada apa-apanya deh dibanding temen-temen yang lain. Ini jadi tulisan pengingat saya bagaimana dulu mimpi saya berawal. Gimana saya sejak dulu suka menulis, walau nggak ada yang baca, diejek-ejek. 

Ya namanya juga proses. Sekarang problemnya saya sih gimana semangat nulis skripsi sama nulis code aja #duh. Ada saran gaes?

Oh ya jadi inget, gimana itu cita-cita pengen jadi wartawan tapi sekarang asik bergelut di IT. Hehe..
kalau kata Pak Arif Subianto sih cita-cita boleh banyak kok, nggak harus satu kan ? :D

Hayuk deh ah semangat meraih cita-cita. 
Bukannya selain jadi wartawan, cita-citamu juga jadi sarjana meg?
#okesip 


Sumber Gambar : http://www.dedot.info/


Friday, January 02, 2015

Macet, Tahun Baru dan Resolusi dong

Hallo 2015. Gimana acara tahun barunya? Kalau saya sih tahun baru cukup dirumah saja. Sempat belanja ke Giwangan sama ibu, tapi habis itu tetap ngendon di rumah. Rasanya sudah tidak berminat keluar di malam tahun baru. Pasti bakal penuh dan macet.

Macet - macet 
" Jogja waktu liburan gini jadi milik warga pendatang," kata kawan saya. Iya sih setuju.