Komentar tentang Komentar

Kemarin saya dibuat ngakak sama Disma. Hari itu Disma berangkat kampus pake gaun biru panjang yang cantik. Bukan kebiasaan Disma, yang biasanya ber celana jeans, pake rok pun cuma kadang-kadang. Lalu Disma cerita dia ketemu sama salah satu temennya, yang begitu lihat Disma, bukannya bilang "Subhanallah" atau apa gitu, eh malah kaget dan bilang " Astaghfirullah.., ya Allah ampuni dosaku".  :)))

Saya pun pernah mengalami hal yang serupa tetapi lebih ekstrim. Ketika saya memutuskan melakukan sesuatu yang berbeda, melakukan perubahan biasanya ada banyak orang yang bakal komentar. Bahkan ada yang terang-terangan menyindir dan malangi " halah nggak mungkin bisa wes" kata mereka. Mungkin nggak cuma saya yang pernah mengalami kayak gini ya. Komentar emang selalu muncul, kalau komentar baik-baik nyemangati gitu sih enak didenger. Tapi kadang komentar juga ada yang bikin 'agak gimana'. Tapi ya emang ini hidup sih. Kita nggak akan pernah lepas dari orang lain. Kalau kata Pak Arif orang-orang itu memang suka mengrecoki orang lain. Sesaat mungkin kita akan jadi populer, *entah itu yang positif atau enggak*. Enak sih kalau dikasih komentar-komentar orang yang baik-baik dan kita jadi populer, banyak dikenal, banyak didekati orang. Tapi kalau hal negatif kita yang jadi bahan pembicaraan.Lah..sama-sama populer sih, tapi populer dicerca *duh.

Tapi ya emang orang suka-nya kayak gitu. Mereka haus sama hal-hal yang bisa jadi hot news, di bicarakan, atau dikomentar. Nah sementara orang-orang berkomentar kita harus tetep melangkah dong. Jangan sampe terlena kalau itu pujian, dan jangan sampe terpuruk kalau itu cercaan. Harus yakin sama yang sudah kita jalani asal itu baik dan benar, soal komentar orang mah dibawa santai aja dan jadi evaluasi aja. Yang penting itu nggak menghentikan langkah buat berbuat atau berubah lebih baik.

"Bergerak atau mati meg! "

ini post self talk, nggak maksud nggurui atau gimana. Kalau mau komentar atau nambahi, sok mangga di bawah :D

Share:

1 comments