Friday, March 27, 2015

Perjalanan Sebuah Pilihan (1)


Hidup itu pilihan, dan tugas kita itu memilih dan stick with it. Apapun konsekuensinya ya memang harus diterima. Tiap orang memang punya hak memilih. Bahkan ketika seseorang memutuskan tidak memilih, sebenarnya pun dia juga sedang memilih.

duh..Omong apa saya ini, abstrak gini,.. hehe

Tenang ini bukan otak saya lagi error karena efek deadline yang ngejar minggu-minggu ini kok. :))

Masih nyangkut ke kerjaan sih. Jadi ceritanya emang minggu ini cukup sibuk beberapa kerjaan lagi seneng ngajak saya lari-lari. Well..kalau baca post saya sebelum ini, saya memang sedang ngrintis suatu usaha gitu.


Sejauh ini responsnya sih lumayan, alhamdulillah. Tapi namanya juga merintis, pasti banyak hal baru yang jadi tantangan dan perlu banyak dipelajari. Memang bukan hal yang mudah ketika memutuskan keluar dari zona nyaman, Dulu yang sebelumnya santai-santai eh sekarang harus mikir ini itu buat usaha. Hal-hal yang sering disebut "sulit" memang akan datang, tapi ya itu memang tantangan, artinya jika berhasil lolos dari masa itu maka akan naik tingkat. Semoga saya kuat menerima semua tantangan. aamiin.

Saya jadi ingat gimana sejak kecil saya memang sudah kepingin bisa menghasilkan uang sendiri. No..bukan karena saya mata duitan, hehe...
atau karena saya merasa miskin. Walau kata ibu saya sekarang-sekarang ini kehidupan kami dulu waktu saya kecil memang susah. Jangankan hura-hura, liburan atau menabung, untuk makan pun kami susah. Disini saya bangga dan bersyukur orang tua saya mendidik saya sangat baik, sehingga tidak membuat saya rendah diri dan merasa melarat.

Saya bahkan cendrung agak tidak peduli dengan uang lho. Karena ya mungkin masa kecil saya sering tidak punya uang sih. hehe...

Jadi ingat dulu pas SD saya pernah punya uang untuk beli pensil karena pensil saya sudah habis. Uang saya cuma 100 perak dulu, padahal harga pensilnya 300 rupiah kalau tidak salah. Saya  nggak paham kalau uang kurang itu ya nggak bisa beli. Namun mungkin karena kasian, akhirnya pak guru ngasih juga,"Ini kurang ya uangnya, tapi ya sudah dibawa saja nggak apa-apa, besok omong ibumu ya."
 Saya inget ini karena dengan uang kurang saya juga masih bisa dapat barang, hehe.. Jadi ketawa juga membayangkan  saya yang ndak paham dikasih tahu tentang konsep sistem jualbeli. :))

Saat SMP baru saya mulai sadar untuk mendapat sesuatu saya butuh uang. Tentu butuh uang bukan untuk hedon atau saingan dengan kawan-kawan lain, saya tidak mengenal konsep seperti itu. Saya tak paham konsep miskin dan kaya jadi ya nggak mungkin iri-irian. hehe...
Pemikirannya sih butuh uang untuk jajan, sewa novel, atau ke warnet sebatas memenuhi kebutuhan sendiri. Uang saku saya saat SMP, sekitar 500-1000 rupiah  itu diberi ibu untuk ganti sarapan/ makan siang. Nggak cukup dong dengan kebutuhan saya sewa novel Harry Potter terbaru, atau belajar internet di warnet yang dulu masih lumayan mahal. Disana saya mulai berfikir cara nya dapat uang agar saya bisa memenuhi kebutuhan saya.

Nah dulu pas SMP saya suka dengar radio. Saya lalu menemukan peluang mendapatkan uang dari kuis-kuis radio. Sejak itulah hampir tiap hari saya muter frekuensi radio nyari kuis. Pas nemu ada kuis saya ngebut deh naik sepeda ke wartel didekat rumah. Waktu kuis di radio memang singkat, jadi saya harus ngebut untuk memperjuangkan hadiah itu. Hehe...

Sayang memang penghasilan dari kuis-kuis tidak banyak kala itu, saya seringnya dapat souvenir-souvenir saja.

Lalu kemudian saya mulai deh cari peluang lain dan tidak jauh-jauh dari radio, saya kepingin jadi penyiar radio. Dulu sudah ada tuh penyiar radio anak-anak. Peluang kerja bagus untuk anak dibawah umur, pikir saya.

Berbagai usaha saya lakukan. Saya mulai cari-cari iklan lowongan penyiar, selain itu saya juga cari-cari radio-radio baru di Jogja, pikir saya pasti peluang jadi penyiar di radio baru buka pasti lebih besar.

Saya bahkan meminta les penyiar ke orang tua saya. Saya cari-cari sendiri les-lesannya dan minta diantar tiap sore seminggu sekali ke daerah bantul sana. Walau kondisi keuangan orang tua saya sulit, tapi mereka selalu berusaha mendukung saya. Saya masih ingat bagaimana orang tua saya datang ketempat les yang saya maui untuk minta keringanan pembayaran agar bisa dicicil. Betapa beruntungnya saya memiliki orang tua seperti mereka. :')

Well..ceritanya dilanjut ke bagian 2 ya mau istirahat dulu :)


sumber image : www.quotecover.com




0 comments:

Post a Comment