Rabu, September 03, 2014

Cerita Seleksi Beasiswa MRUF dong


Hari ini saya dapat pengalaman superb. Jadi ceritanya saya sekitar bulan Mei - Juni ngeliat info beasiswa MRUF Envoy. Dari deskripsi awal, saya langsung tertarik, yaitu beasiswa untuk calon pengusaha muda. Yang bikin saya makin tertarik adalah program pengusaha nya. Beasiswa ini bakal memberikan training dan coaching untuk penerima beasiswa agar menjadi pengusaha. Kece kan programnya? Iya dong..

MRUF Envoy ini adalah program beasiswa yang berusaha mencetak wirausahawan muda Indonesia. Program ini dibuat oleh yayasan Mien R. Uno. Beasiswa ini sudah masuk periode ke enam lho..artinya sudah 6 tahun berjalan. Kalau cerita dari mbak yang ngurus program ini, awalnya MRUF Envoy hanya beasiswa yang diberikan mahasiswa saja, tanpa ada tambahan-tambahan program. Namun seiring berjalan waktu, program-program ditambah sesuai dengan tujuanya untuk menciptakan wirausahawan muda Indonesia.

Karena tertarik, segera saya buat dan kirim syarat-syarat yang diminta. Eh kok yo Alhamdulillah dipanggil disuruh interview juga setelah nunggu cukup lama. Saat itu interview dilakukan di UGM fakultas teknik. Disana saya mengerjakan tes psikologi yang jumlahnya banyak banget. Sayangnya diakhir test, diumumkan kalau saya tidak lolos.

Agak kecewa memang, tapi pikir saya ini bukan berarti saya nggak pantes jadi pengusaha. Tidak lolos mungkin karena saya ndak cocok saja untuk program MRUF ini.

Well...setelah waktu berjalan, tau-tau disuatu siang pas lagi ngajar ada telpon masuk dari Jakarta, sayangnya ndak keangkat. Kemudian maghribnya ada lagi telpon. Ternyata itu dari pihak MRUF yang menyatakan saya bisa ikut tes susulan. Saya sempat tanya kenapa saya ikut tes susulan, dan ternyata karena kemarin berkas administrasi saya ada yang kurang. Hmm...dalam hati saya juga bingung, kayaknya sudah lengkap-lengkap deh. Ah tapi sudahlah, intinya saya ambil kesempatan kedua ini. Bukankah kesempatan kedua itu sangat jarang terjadi? alhamdulillah..

Seleksi susulan ini dilaksanakan di Hotel Cakra Kusuma di Jakal Km 5 dan dilaksanakan selama dua hari. Terpaksa saya harus ijin PPL untuk mengikuti kegiatan ini, tapi worth it kok :D Diseleksi kali ini kami berlima, ada Mbak Rahmi, Mbak Novi, Mas Yudhi sama Mas Agung. Mbak Rahmi ini masih semester 3 dari UGM jurusan TPHP yang punya usaha bidang makanan. Kalau mbak Novi saya kenal sudah dari seleksi tahap ke dua dulu, dari Jurusan Psikologi UIN SUKA dengan bisnis obat herbalnya. Mas Yudhi dari jurusan Teknobiologi dari Atmajaya dengan bisnis ikan bawalnya, dan Mas Agung yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk ikut tes susulan dari Ilmu Komunikasi UNPAD.

Diseleksi susulan ini saya harus menempuh beberapa tahapan. Diawal saya ketemu sama Psikolog, kita sharing-sharing, sempat ada games kelompok juga. Dari sini beliau juga sempat berpesan untuk kita dalam menjalani hidup. " Saat ini kehidupan itu bukan tentang menjadi terbaik diantara yang lain tapi menjadi terbaik dari diri sendiri," Sukses dimasa saat ini bukan urusan diri sendiri, tapi juga bagaimana bisa sukses bersama. Memulai bisnis ketika hanya memikirkan diri sendiri atau hanya memikirkan uang akan sangat sulit untuk berkembang. Kembangkanlah bisnis yang bermanfaat bagi orang lain.

"Ini bukan tentang kompetisi melawan orang lain, tapi melawan dirimu sendiri. Menjadi yang terbaik dari diri ini"

Setelah itu sempat diwawancara juga oleh trainer MRUF yaitu Pak Ibnu dan Pak Anto yang kalau lolos beasiswa ini bakal nemenin dan memantau kita selama setahun. Diawal sebelum wawancara, beliau mengungkapkan bahwa butuh banyak perjuangan untuk menyusul teman-teman yang sudah duluan masuk. Yang dibutuhkan ketika mau menjadi pengusaha itu kemauan untuk belajar dan bertransformasi. Kalau tidak mau ya mending nggak usah jadi pengusaha. Kalau kata saya sih namanya pengusaha , jelas ada kata USAHA didalamnya. Jadi kalau ndak mau usaha ya bukan pengusaha. Iya.

Dihari kedua saya ketemu dengan ketua yayasan MRUF yaitu bapak Indra. Nggak lama sih ngobrol tentang bisnis, bahkan bapaknya sempat bercerita tentang bisnis IT yang baru-baru ini bakal segera launching.
Nggak nyesel deh pokoknya ikut interview ini. Habis interview pun sempet ngobrol sama Mas Nanda dari Bandung pengusaha tanaman Hias yang juga merupakan Penerima beasiswa MRUF V. Mas Nanda ini  cerita tentnag bisnisnya, dan apa aja yang didapat selama ikut MRUF. Komitmen jadi kunci utama, ketika di MRUF dan juga tentu saja ketika mulai jadi pengusaha. Komitem ini harus bisa dipegang, itu seperti berjuang melawan diri sendiri, iya. Karena memang perjuangan sebenarnya itu melawan diri sendiri.

Dan akhirnya setelah ikut interview ini yang saya rasain satu. M A L U ...
iya saya malu. Rasanya kemana saja saya selama ini. Banyak bermimpi, cuma mengawang-awang mau ini mau itu tapi geraknya dikit. Komitmen ke diri sendiri juga banyak dilanggar.

Pak Ucok Psikolog yang interview kami juga sempet bilang. "Jangan nyalahin takdir. Kalau misal ada yang mati ketabrak karena nggak pakai helm, ya yang  dia kenapa nggak pakai helm."
Ada benarnya juga sih. Sering nya tuh nyalahin keadaan jadi hal yang paling mudah dan bikin lega. Bahkan jadi alasan untuk nggak nglakuin apa-apa.
"Soalnya jadwal penuh nih, kuliah mulu," ; "Capek nih udah banyak banget kegiatannya," ; "Nggak ada modal ini," ; " Dirumah banyak kerjaan nih, nggak mau nyoba ah" ;

Jleeb..itu saya banget.

:(

Saya bersyukur bisa ikut interview kali ini ( ya selain juga dapet bonus interview dengan fasilitas makan siang dihotel dan coffee break ) :D . Saya nggak masalahin nanti bakal ketrima atau enggak. Allah itu selalu ngasih yang terbaik. Mau ketrima atau enggak saya tetap akan Usaha capai mimpi saya.Dan berjuang untuk bertransformasi jadi lebih baik lagi.

Menutup post panjang kali ini ada Quote dari Pak Sandiaga Uno Pengusaha Indonesia adik dari Pak Indra. Mereka meruapak sosok-sosok dibalik Beasiswa MRUF Envoy ini. Empat kiat sukses dari Pak Sandiaga :
Kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas
Terimakasih Tuhan atas kesempatan hidup dan cerita-cerita didalamnya. Mari berjuang. Bismillah...


Senin, Agustus 04, 2014

RIndu dong

Jam menunjukan pukul 22.45 saaat saya sampai di rumah. Perjalanan malam dari pondokan KKN ke rumah malam ini agak berbeda dari malam sebelumnya, dingin dan bikin deg-degan. Tapi bukan deg-degan karena ada yang nyatain cinta kok. #duh

Saya memang nggak biasa pulang malam, biasanya hanya kalau kepepet saja dan acara-acara penting. Tapi itu bukan berarti saya takut. Selama ini kalau saya terpaksa pulang malam, selalu biasa saja, ndak takut atau parno.

Tapi malam ini, setelah rapat dengan pemuda di pondokan KKN, saya memang agak ragu mau pulang atau tidak. Sebenarnya bisa saja malam ini nginep di pondokan, tapi sayangnya esok hari ada kerjaan dirumah yang ndak bisa ditinggal, mau nggak mau saya harus pulang.

Jalan Parangtritis menjadi jalan yang saya pilih. Alasannya jarak dari lokasi KKN sampai kerumah memang lebih dekat lewat jalan ini. Jalan cukup ramai, sepeda motor dan mobil masih banyak menuju ke arah kota jogja. Mentok dijalan parangtritis, deg-degan pun dimulai. Pas dapat lampu merah, dari arah barat ada sekelompok orang dengan sorban yang ditaruh dipundak yang naik motor sambil digeber-geber. Sekelompok ini bukan dua atau tiga orang saja. Tapi banyak banget, mungkin 20 motor ada, lebih kayaknya. Mereka menuju ke arah utara. Dan itu artinya, kami bakal satu arah. Itu satu-satunya arah untuk pulang.
Pas lampu sudah hijau, ternyata polisi yang jaga sudah stand dan mengarahkan kami untuk tidak ikut ke "pawai" tersebut. Manut, iya. Tapi saya lalu muter, lha wong itu satu-satunya jalan pulang. Maaf pak polisi.
Dan salah ternyata ndak manut sama pak polisi. Baru jalan beberapa meter, ternyata rombongan berhenti ditengah jalan. Dari pndangan mata, mereka tampak lagi ribut. Haduh.. beberapa motor didepan saya malah ikut berhenti, ikut nonton. Mau ndak mau saya juga cuma bisa ikut nonton gerombolan orang yang mulai berteriak-teriak. Hingga ada suara letusan.

Saya sempat mikir, oh mereka mungkin lagi nyalain mercon. Eh..
tapi bukan, kemudian ada tiga kali susulan letusan. Dan itu berasal dari salah satu dari kelompok yang membawa pistol, dan menembakannya ke atas. Ya ampuun..

Jadi deg-deg-an gitu,malem-malem dingin nonton adegan live tembak-tembakan. Karena takut, saya pun memilih ngacir, muter balik.

Beneran muter balik, yaitu muter terus keliling jalan sekitar situ terus balik lagi lewat situ. Ya karena emang cuma bisa lewat sana. Alhamdulillah rombongan -rombongan berbendera dan bersorban sudha nggak ada, diganti beberapa polisi.

Saya ndak tahu juga sih itu dari "kelompok" apa. Yang pasti memang agak mengerikan. Selama ini kalau pulang malam saya biasa merasakan jogja yang aman-aman, sat ini saya jadi agak ragu :(
semoga jogja kembali seperti dulu lagi. Rindu jogja yang nyaman dan aman :(


Minggu, Agustus 03, 2014

Dihargai dong



Pernah ndak merasa nggak terima, nggak suka atau merasa dirugikan dengan suatu keputusan yang dibuat oleh sekelompok orang? Padahal diri ini bagian dari kelompok itu juga. Kebetulan saat ngambil keputusan kita ndak dateng, atau bahkan saat pengambilan keputusan mufakat kita ada tapi ndak bisa bersuara karena ndak ada dukungan. 
Mau protes, rasanya sia-sia karena keputusan udah di ketok palu. Nyari temen dan dukungan buat ngerubah keputusan, ndak ada yang bisa diajak kerjasama, ada yang takut, ada yang ndak peduli. Akhirnya cuma bisa grundelan, ngrasani, dan nggonduk ketika menjalankan hasil keputusan. Alias mengeluh terus saat menjalankan tugas. 

Padahal dengan mengeluh kerjaan dan tugas jadi lebih berat lho. Iya~ saya sering ngalami kok. Mengeluh dan nyalahin orang jadi penghambat kerja dan bisa bikin hidup nggak positive. Energi yang harusnya digunakan untuk kerja habis terpakai untuk memikirkan hal-hal negatif. 

Saat mengeluh itulah sering otak jadi kreatif untuk mencari-cari alasan. Alasan buat protes dan nggresulo. Iya sih memang dalam permusyawarahan harusnya semaksimal mungkin mengayomi anggotanya dengan keputusan-keputusan yang diambil. Idealnya begitu. Tapi kenyataan memang sering jauh dari yang ideal.
Dan kalau itu terjadi, ada dua sikap yang bisa bikin enak menurut saya, yaitu :

2. Lain kali lebih fokal kalau musyawarah
Faktanya di Indonesia yang suaranya paling keras, walau kadang nggak berbobot, lebih didengar dan dilihat. Kadang mereka yang berduit juga yang lebih didengar dan dilihat. :( 
Tapi ya udah, jangan hanya nyalahin keadaan, tapi rubah keadaan.  Caranya?
Ya berarti lain kali lebih fokal lagi kalau ada musyawarah. Jangan malu-malu untuk mengungkapkan pendpat. Jangan diam saja pas di forum, tapi ngomong nggak enak dibelakang. 

1. Legowo 
Menerima hasil keputusan dengan lapang dada. Memang harusnya seperti itu sih. Setiap anggota di musyawarah harusnya bisa menghargai keputusan yang sudah diambil. Toh keputusan sudah diambil, orang-orag udah  pada menjalankan hasil keputusan. Kalau mau diubah dan saran cari waktu yang pas saja. Selama penantian waktu pas itu memang harus legowo saja. Masih ingat pelajaran PPKN tentang saling menghargai pas kelas 4 SD kan?  Saatnya dipraktekan itu ilmunya :D

ya sudah gitu aja, boleh lho kalau ada yang mau nambahi, nyaci, dan lain sebagainya. Post ini belum diketok palu, masih bisa berubah sewaktu-waktu. Lha wong ini sebenarnya post juga hasil nggresulo, dari pada bikin pusing, dibikin jadi postingan blog aja deh :))


Jumat, Agustus 01, 2014

Selamat Lebaran Dong


Mohon maaf lahir batin yaa sodara-sodara. Semoga dihari raya idul fitri kali ini bisa menjadi penutup dan perayaan setelah ramadhan yang penuh berkah. Semoga bisa ketemu lagi sama Ramadhan tahun depan. Aamiin.

 Ngomong-ngomong soal idul fitri, seperti tahun sebelumnya saya tidak merasakan yang namanya mudik. Kalau dulu saya memang ikut mudik orang tua ke Solo, jadi bisa merasakan gimana suasana mudik. Packing, pantat pegel karena harus naik motor, macet, dan segala bau-bau mudik. :)))

Buat sodara-sodara yang masih mudik atau baru perjalanan pulang, semoga selamat sampai tujuan. Sementara sambil nunggu libur KKN PPL selesai saya tak nyemil astor dulu. :))

Gambar : Astor



Minggu, Juli 27, 2014

Shalat Lebih Penting dong

Sebagai blogger aras-arasen yang ngeblog kalau lagi mood saja, saya sebenarnya cukup aktif untuk blogwalking alias berkunjung ke blog-blog orang-orang. Saya tertarik dengan sudut pandang dan pemikiran unik dan lucu dari blogger-blogger, jadi bisa menghibur saya bahkan kadang memberi pencerahan.
Saat blogwalking saya akan ingat-ingat blog yang menarik dan berkesan. Biasanya sih saya inget-inget nama penulisnya, kalau pas selo saya pasti balik lagi buat ngecek update dari blog tadi.

Salah satu blog yang berhasil menarik saya untuk rajin berkunjung adalah blognya Mas Agus Mulyadi. Saya agak lupa pertama kali bisa ketemu blog ini, kalau nggak salah sih dulu ada yang ngeshare di twitter. Pas masuk ke blog ini, saya pasti langsung disapa oleh foto mas Agus yang mejeng dihalaman depan yang kalau discroll kebawah pun fotonya nggak mau ilang =)).
Ini tampilan awal blognya beliau :
Ini tampilan utama, foto yang selalu setia menyapa pembacanya

Pertama kali lihat foto mas agus saya jadi inget kayaknya dulu pernah lihat orang ini, well sakjane wajahnya beliau ini mirip sama temen sekelas di kampus. Sayangnya saya ndak punya foto kawan saya jadi ndak bisa mbandingin. Tapi selain itu saya capet-capet inget kalau beliau ini pernah masuk hot thread kaskus gara-gara jago ngedit foto sama artis terutama JKT48, pun kayaknya bener soalnya di blognya ada post ini. 

Diluar wajahnya yang sudah familier, saya juga inget pertama kali saya mbaca postingan mas Agus itu adalah tulisan Nikah-Nikah Bathukmu Sempal. Posting yang bikin saya trenyuh ketawa-ketiwi dengan pemilihan bahasa jawa yang udah lama ndak saya dengar dan baca. Saya juga pernah nyasar nggak sengaja ke postingan mas Agus ini pas cari tahu tentang translate bahasa indonesia di film luar negeri di bioskop itu ada enggak. Iya, saya emang belum pernah nonton film luar di bioskop :| , karena penasaran saya googling. Eh nemu blognya mas Agus lagi ynag share gimana pengalaman dia pertama kali nonton film di bioskop, sungguh berasa punya teman. :))

Nah kabar terbaru kemairn pas lagi baca-baca di blog lomba menulis, Mas agus ini baru aja nerbitin buku. Judulnya "Jomblo Tapi Hafal Pancasila", dan beliau lagi bikin giveaway gitu. Entah giveaway itu apa saya ndak tau, intinya kalau ndak salah beliau bagi-bagi buku gratis. Saya sebagai silent reader blog dan follower twitternya jadi kepengen ikut gitu, siapa tahu bejo =))

Yak dari posting ini, saya ndak merekomendasikan buat sedulur-sedulur baca blognya Mas Agus, karena sesungguhnya Shalat lebih penting dari pada mbaca blog beliau.

Selebihnya sukses buat mas Agus Mulyadi, semoga tetep nulis, menghibur dan segera dapat jodo. Aamiin. :)

Senin, Juli 21, 2014

Lomba TPA dan mandi dong

Hari ini Kegiatan KKN saya adalah Lomba TPA. Ini jadi kegiatan pertama yang bisa dibilang cukup besar di kelompok kami sejak penerjunan. TPA di desa Sumbermulyo yang diadakan khusus pada masa ramadhan ini cukup memiliki banyak santri. Dari data Remaja Masjid sekitar 80 anak. Banyak kan ya? Sayangnya memang disini TPA hanya pas Ramadhan saja, di luar Ramadhan tidak ada.

Kelompok KKN saya mulai masuk ke TPA sejak awal penerjunan, hal ini juga jadi observasi awal sebelum rencana kami ingin menghidupkan TPA diluar Ramadhan. Setelah hampir tiga minggu ikut serta mengurusi TPA, hari ini jadi puncak kegiatan yaitu kegiatan Lomba-lomba. Sebenarnya lomba biasa dilakukan di minggu akhir, namun karena kedatangan kami yang hanya sampai tanggal 23 di bulan Ramadhan ini, maka kegiatan lomba diajukan. Hehe.makasih mas mba Remaja Masjidnya :)

Untuk proker ini saya kejatah untuk membantu Hanum ngurusi hadiah dan jadi seksi perlengkapan. Artinya kami harus datang lebih pagi dong ya buat mempersiapkan segala sesuatunya. Jam di juknis yang dibikin oleh Ketua Kegiatan mewajibkan pukul 06.30 sudah sampai dilokasi untuk persiapan. Padahal dimalam sebelumnya kami harus nyiapin bermacam dokumen, bungkus kado, dan nggodain tukang bakso :3. Sebenarnya kami sudah bangun dari jam 4 kurang, buat sahur.   Tapi ya karena capek jadi maklum gitu deh kalau kami kesiangan #alibi #duh

Padahal kami harus antri mandi juga, kebetulan hanya ada dua kamar mandi untuk 13 wanita yang standar waktu mandinya hanya dua, lama dan lama banget.  Ya uwis, sebagai panitia yang penuh tanggung jawab dan kesatria, saya dan Hanum menyusun strategi. Kami akan berangkat tepat waktu untuk menyiapkan perlegkapan dengan modal cucimuka, gosok gigi dan parfum. Setelah kawan-kawan datang, kami bakal cus pulang dan mandi dengan selo  :))

Begitu sampai dilokasi lomba, eh jebul adik-adiknya sudah banyak yang datang. Mereka semangat sekali sampai-sampai ada yang belum mandi dan harus nangis nggak mau pulang pas disuruh ibu nya mandi dulu.
*Jleb* padahal disini mbak-mbaknya udah kece tapi belum mandi juga -___-
Adek-adek ndaftar lomba


Karena terlalu banyak anak-anak dan temen-temen juga belum datang-datang strategi kami gagal deh, setelah perlengkapan siap saya dan Hanum harus bantuin jaga di Pendaftaran. Jaganya sih sambil jaga jarak gitu, takut kalau ketahuan adek-adek yang masih lugu ini kalau mbak-mbaknya ada bau-bau belum mandi. hehe...


ng..nganu..nggak mau difoto dulu yaaa :')

Diluar acara mandi, Lomba TPA berlangsung lancar, Alhamdulillah.

Seneng bisa bareng-bareng adek-adek yang semangat dan berisiknya pun luar biasa, hahaha..

Pembagian Hadiah \\(^o^)//

Semoga bisa bermanfaat acara ini, dan jadi tambah semangat juga buat ngerjain proker-proker lainnya :D

Dan kenapa post ini malah jadi ngebuka aib sendiri ya..
astaghfirullah..
-___-

Rabu, Juli 16, 2014

Tenang dong

sesungguhnya ketenangan jiwa menjadi nikmat yg sering dilupakan untuk disyukuri. atau malah dia memang tak pernah hadir pada diri ini. Astaghfirullah..
coba rasakan meg,saat ini kamu masih bisa bobok nyenyak,bisa posting blog,ngobrol dengan keluarga. Bandingkan dengan mereka yang mungkin detik ini harus berfikir mau tidur dimana, mereka yang mungkin sedang menangis meratapi kepergian keluarganya, gundah dengan penyakit yang diderita.
sungguh nikmat ketenangan itu tak ternilai, banyak-banyak lah berdoa meg. Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi satu detik kedepan. doakan agar orang-orang juga mendapatkan ketenangan jiwa,hilang gelisahnya, kuat menghadapi masalahnya.
Aamiin.
ditulis ditengah rasa gelisah karena terlalu berburuk sangka terhadap kehidupan. Astaghfirullah ..